Apakah teknologi itu berkah atau kutukan?

[ad_1]

Suka atau tidak suka, kita kecanduan teknologi. Sementara bertahun-tahun yang lalu, ponsel, laptop, desktop, dan tablet lebih mungkin ditemukan dalam novel fiksi ilmiah daripada di rumah kita, kita tidak hanya menyukai teknologi, tetapi juga bergantung padanya.

Namun, apakah semua teknologi ini di ujung jari kita membawa kita lebih dekat atau menambah jarak satu sama lain?

Fakta bahwa hari ini kami menganggap bahwa kami dapat dengan nyaman di ruang keluarga kami atau di kantor kami dan berbicara dengan seseorang di belahan dunia lain melalui Skype atau perangkat lunak webcam lainnya sungguh menakjubkan. Namun, kami menerimanya begitu saja. Kami dapat berkomunikasi secara real time, mengirim dokumen, video, rekaman, hampir semua hal yang kami inginkan kepada siapa pun di mana pun, dan tentu saja kami melakukannya dan tidak pernah memikirkannya lagi.

Orang akan berpikir bahwa kemampuan kita untuk terhubung dengan orang lain secara global akan membawa dunia lebih dekat. Tidak lama kemudian mereka masuk ke mobil atau pesawat dan melakukan perjalanan ke kota, negara bagian, atau negara lain untuk pertemuan tatap muka. Tidak lama kemudian kami harus menggunakan US Postal atau membayar layanan kurir untuk mengirim dokumen ke seluruh kota. Hari ini, itu diselesaikan dengan PDF sederhana.

Tetapi apakah fakta bahwa kita dapat terhubung dengan siapa pun secara instan membuat dunia menjadi tempat yang lebih kecil atau lebih besar? Orang akan berpikir bahwa teknologi membuat dunia lebih kecil dan lebih intim karena alasan yang jelas. Saat ini, jika kita ingin berbicara dengan kerabat di Cina, Eropa atau Australia, kita dapat melakukannya kapan saja, biasanya gratis di Internet.

Tetapi pada saat yang sama, alat-alat teknologi yang kita miliki ini membuat kita hampir tidak perlu saling mengunjungi, duduk di meja, mengadakan pertemuan atau berjalan-jalan bersama. Mengapa bersusah payah makan siang dengan seseorang ketika pesan teks sederhana dapat mencapai hal yang sama?

Saya menganggap teknologi sebagai pedang bermata dua. Ya, kami kecanduan. Ketika hard drive kita gagal, kita panik, dan memang seharusnya begitu. Kami tidak hanya takut kehilangan apa yang dekat, sayang, dan penting dalam hidup kami, tetapi sekarang kami juga takut tidak dapat membuka Facebook, memiliki email, atau obrolan video. Kami merasa terputus dari teman, keluarga, dan mitra bisnis kami.

Betapa menyedihkan bahwa kita mengandalkan gigabyte daripada telepon. Betapa sedihnya kita melihat satu sama lain melalui kata-kata di layar kecil alih-alih tatap muka. Ya, teknologi memang cepat, tetapi apakah itu benar-benar menggantikan secangkir kopi dengan anggota keluarga atau teman? Saya harap tidak.

Kuncinya adalah menggunakan teknologi, seperti yang kita semua lakukan, tetapi jangan pernah melupakan sentuhan pribadi yang membuat kita tetap berhubungan satu sama lain. Sebaiknya kita semua sesekali meninggalkan keyboard atau perangkat genggam kita dan melakukan percakapan secara langsung.

Ya, pemikiran revolusioner.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close